Penjelasan Hadits Adab dan Akhlaq Bulughul Maram: Keutamaan Akhlak Mulia.

| |

Terlalu banyak dalil yang menunjukkan akan keutamaan akhlak yang mulia. Diantaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

أَكْمَلُالْمُؤْمِنِيْنَإِيْمَانًاأَحْسَنُهُمْخُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya” (HR At-Tirmidzi no 1162)

إِنَّمِنْأَحَبِّكُمْإِلَيَّوَأَقْرَبِكُمْمِنِّيْمَجْلِسًايَوْمَالْقِيَامَةِأَحَاسِنَكُمْأَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku tempatnya pada hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian” (HR At-Tirmidzi 2018)

Ternyata akhlak yang mulia merupakan tolak ukur utama dalam menilai tingkat keimanan seseorang

Berikut ini hadits-hadits shahih yang senada dan menguatkan hal ini.  

خَيْرُكُمْخَيْرُكُمْلأَهْلِهِوَأَنَاخَيْرُكُمْلأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya, dan aku adalah yang terbaik diantara kalian terhadap istriku”

خَيْرُالأَصْحَابِعِنْدَاللهِخَيْرُهُملِصَاحِبِهِوَخَيْرُالْجِيْرَانِعِنْدَاللهِخَيْرُهُمْلِجَارِهِ

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah, adalah yang terbaik bagi sahabatnya. Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik bagi tetangganya”

خَيْرُالْمُسْلِمِيْنَمَنْسَلِمَالْمُسْلِمُوْنَمِنْلِسَانِهِوَيَدِهِ

“Sebaik-baik muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari keburukan lisan dan tangannya”

خَيْرُالنَّاسِخَيْرُهُمْقَضَاءً

“Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik dalam melunasi hutangnya”

خَيْرُالنَّاسِذُوالْقَلْبِالْمَحْمُوْمِوَاللِّسَانِالصَّادِقِ،قِيْلَ: مَاالْقَلْبُالْمَحْمُوْمُ؟قَالَ: هُوَالتَّقِيُّالنَّقِيُّالَّذِيلاَإِثْمَفِيْهِوَلابَغْيَوَلاَحَسَدَ

“Sebaik-baik manusia adalah yang memliki hati yang tersapu (bersih) dan lisan yang jujur”. 

Ditanyakan kepada Nabi, apa maksud hati yang tersapu (bersih)?. Nabi menjawab : “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tiada dosa padanya, tiada kezoliman dan tidak hasad”

خَيْرُالنَّاسِأَنْفَعُهُمْلِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”

خَيْرُكُمْمَنْأَطْعَمَالطَّعَامَوَرَدَّالسَّلاَمَ

“Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makanan dan menjawab salam”

خَيْرُمَاأُعْطِيَالنَّاسَخُلُقٌحَسَنٌ

“Pemberian terbaik yang diberikan kepada manusia adalah akhlak yang baik”

Hadits-hadits di atas menunjukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkaitkan “muslim terbaik” dengan perilaku dan perangai akhlak yang mulia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

إِنَّالْعَبْدَلَيُدْرِكُبِحُسْنِخُلُقِهِدَرَجَةَالصَّائِمِالقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mencapai derajat orang yang berpuasa dan sholat malam dengan sebab akhlaknya yang baik” (HR Abu Dawud no 4798)

Hadits ini menunjukkan bahwasanya bisa jadi seseorang kurang dalam amal ibadatnya seperti puasa dan sholat malam, akan tetapi dengan akhlaknya yang mulia ia bisa menyamai orang yang senantiasa puasa sunnah dan sholat malam. Bagaimana lagi jika ia rajin beribadah sekaligus dibarengi dengan akhlak yang mulia?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

مَامِنْشَيْءٍأَثْقَلُفِيْمِيْزَانِالْمُؤْمِنِيَوْمَالْقِيَامَةِمِنْخُلُقٍحَسَنٍ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan (kebajikan) seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi)

Hadits ini mengisyaratkan kepada kita bahwa seseorang mukmin berusaha untuk melakukan amalan yang terbaik dengan timbangan yang terberat pada hari kiamat. Karena kita sadar bahwa umur dan kemampuan kita untuk beramal sholeh terbatas, maka Nabi mengarahkan kita untuk berakhlak yang mulia, karena akhlak mulia merupakan amal ibadah yang sangat berat timbangannya pada hari kiamat.

Dan diantara keutamaan akhlak yang terbaik sebagaimana perkataan Abdurrahman bin Nashir as-Si’diy :

وَإِنَّهُفِينَفْسِهِعِبَادَةٌعَظِيْمَةٌتَتَنَاوَلُمِنْزَمَانِالْعَبْدِوَقْتًاطَوِيْلاً،وَهُوَفِيرَاحَةٍوَنَعِيْمٍ،مَعَحُصُوْلِالأَجْرِالْعَظِيْمِ

“Dan sesungguhnya akhlak mulia itu sendiri pada dasarnya merupakan ibadah yang agung yang mencakup waktu yang panjang dari seorang hamba, sementara sang hamba dalam ketenteraman dan kebahagian, disertai memperoleh pahala yang besar” (risalah “Husnul Khuluq”)

Sungguh benar perkataan beliau, karena seorang hamba hampir terus menerus dalam kondisi berinteraksi dengan orang lain, jika ia berhias dengan akhlak yang mulia maka pahala akan terus menerus mengalir kepadanya. Di luar rumah ia bertemu dengan teman kerjanya, atau bosnya, di rumah ia bertemu dengan istrinya dan anak-anaknya, demikian juga bertemu dengan orang tuanya, di pasar ia bertemu dengan para penjual, dan seterusnya. Jika akhlak yang mulia telah terpatri dalam dirinya maka sungguh pahala terus akan mengalir kepadanya tatkala ia bermuamalah dengan orang-orang tersebut.

Demikian juga beliau mengingatkan bahwa akhlak yang mulia itu sendiri merupakan ibadah yang agung. Karena sebagian orang merasa sedang beribadah tatkala sholat, membaca al-Qur’an, tatkala sedang berpuasa, dan berdzikr, akan tetapi terkadang lupa bahwa berakhlak mulia ternyata merupakan ibadah yang agung.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang berakhlak yang mulia senantiasa dalam kondisi tenteram dan bahagia. Karena orang yang berakhlak mulia hatinya bersih jauh dari kesengsaraan. Orang yang berakhalak mulia adalah orang yang mudah memaafkan, bukan pendendam, tidak temperamental, ringan tangan membantu orang lain, tidak pelit, tidak hasad, qona’ah, tidak suuzon, dll. Orang yang seperti ini adalah orang yang bahagia dalam kehidupannya. Sementara orang yang berakhlak buruk adalah orang yang sangat menderita batinnya, karena ia seorang yang pendendam, pemarah, pelit, suka suuzon, tukang hasad dan tukang hasud, dll. Ini adalah orang yang sangat menderita kehidupannya, orang yang sengsara, dan juga membuat orang-orang di dekatnya (seperti anak dan istrinya atau suaminya) ikut menderita dan sengsara. Berbeda dengan orang yang berakhlak yang mulia, ia bahagia dan membuat orang-orang disekitarnya juga ikut berbahagia.

Previous

Apa Yang Dimaksud Dengan Islam Syumul?

Menjadi Muslim Berakhlak Mulia Ciri manusia baik menurut patokan agama adalah ketika seorang penuntut ilmu kian dekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan menjaga akhlaknya

Next

Tinggalkan komentar