Konsep Hakiki Menjual Diri Kepada Allah

| |

Menjual diri.

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengarkan kata ini?

Terdengar sangat tabu di telinga, karena menjual diri identik dengan hal yang negatif. Yaitu orang-orang yang merelakan dirinya dan tubuhnya untuk dinikmati demi segepok uang sebagai imbalannya.

Maka, orang yang menjual diri ini menyerahkan dirinya seutuhnya, begitu juga waktu dan semua aktivitasnya kepada pembelinya sesuai harga dan waktu yang telah disepakati.

Namun, menjual diri tidak selamanya negatif. Anda bisa dikategorikan menjual diri saat menggunakan segala potensi diri untuk menghasilkan sesuatu.

Baca juga: Apa Sebenarnya Pengertian Islam itu?

Bekerja secara totalitas dengan mengerahkan segala kemampuan untuk mempersembahkan kinerja atau pelayanan yang baik kepada manusia lain.

Atau “menjual” potensi apa saja yang bisa dijual dalam diri selama itu tidak melanggar norma.

Pada dasarnya, setiap kita ini sedang menjual.

Melamar jadi karyawan pasti Anda menjual potensi diri bukan?

Tawaran Spesial Jual Beli Allah

Allah menawarkan sebuah hubungan antara diri-Nya kepada makhluknya (manusia) dengan menggunakan bahasa ekonomi. Bukankah menjual dan membeli adalah bahasa yang paling akrab di dunia perdagangan? Di sana ada transaksi untung dan rugi.

Allah jelas-jelas menawarkan sebuah bentuk perniagaan yang tak pernah rugi (laa Tabuur) dan sangat menguntungkan (at-Tijarah ar-Rabihah).

Coba kita pahami firman-Nya berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”

QS. Ash-Shaff: 10

Dalam tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaily dijelaskan bahwa Allah bertanya – istifham lit-targhib, pertanyaan mengajak kepada orang-orang yang beriman tentang sebuah perniagaan yang bermanfaat dan menguntungkan. Perniagaan yang takkan pernah rugi. Keuntungannya adalah selamat dari siksa yang pedih di hari akhir.

Perniagaan seperti apa yang keuntungannya terbebas dari api neraka? Tentunya, bebas dari siksa berarti akan mendapatkan surga.

Dalam ayat selanjutnya, Allah menjelaskan bahwa perniagaan itu adalah iman dan jihad.

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(Yaitu) kamu beriman kepada allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.”

QS. Ash-Shaff: 11

Termasuk semua amalan shaleh yang dipersembahkan hanya kepada-Nya. Dengan selalu berpegang pada keimanan, mengikhlaskan amal perbuatan, dan berjihad untuk meninggikan agama Allah dengan harta dan jiwa. (penyebutan harta terlebih dahulu menunjukkan bahwa perjuangan jihad dimulai dari harta terlebih dahulu dengan berinfaq di jalan Allah)

Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa sesungguhnya iman dan jihad lebih baik dari diri dan harta kalian.

Masih di tafsir yang sama, Wahbah membagi jihad menjadi dua:

  1. Jihad nafs, yaitu tidak memperturutkan syahwat, meninggalkan tamak (kerakusan terhadap dunia), dan berbelas kasih kepada sesama.
  2. Jihad yang bermakna perang (qital) melawan musuh untuk menegakkan agama Allah.

Keuntungan yang berlipat dari perniagaan dengan Allah SWT, dijelaskan pada ayat selanjutnya:

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”

QS. Ash-Shaff: 12

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”

QS. Ash-Shaff: 13

Jika kita sudah deal untuk melakukan perniagaan seperti yang Allah kehendaki, maka Allah akan memberikan dua keuntungan sekaligus.

Keuntungan Jual Beli Dengan Allah

Keuntungan yang pertama, (QS. Ash-Shaff: 12) adaIah keuntungan ukhrowi yoitu ampunan dosa dan surga. Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, tempat-tempat yang nyaman bagi jiwa, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang tiada tara yang tidak akan habis atau dipisahkan oleh maut.

ltulah keuntungan yang tidak ada lagi keuntungan di atasnya.

Saat berbicara tentang surga, sesungguhnya kita tidak mampu untuk membayangkannya dengan akal dan pengalaman-pengalaman kenikmatan yang pernah kita rasakon atau saksikan di alam dunia ini.

Sungguh imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasan.

Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah berfirman,

“Kami sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh, sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas oleh hati manusia…”.

Bahkan orang yang paling terakhir masuk surga saja akan mendapatkan kenikmatan sepuluh kali lipat dunia dan seisinya. Sampai imajinasinya tidak mampu lagi untuk berimajinasi.

Cara Allah Menggambarkan Surga

Bagaimana cara Allah menggambarkan surga kepada kita?

Seperti orang dewasa yang akan menjelaskan nikmatnya pernikahan kepada anak kecil. Misalnya, seorang anak tentunya tidak akan bisa mengerti indahnya pengantin baru dan berbulan madu. Nalarnya belum sampai.

Maka untuk menjelaskan kepada anak kenikmatan tersebut, dibuatlah pertanyaan atau gambaran yang sesuai dengan nalarnya. “Makanan apa yang paling enak yang pernah kamu rasakan?” maka muncullah beberapa jawaban, salah satunya adalah es krim. “Nah, nikah itu lebih enak dari es krim.”

Begitulah kira-kira kita dengan Allah. Gambaran surga dengan sungai dan bidadarinya hanya ibarat atau perumpamaan. Kenikmatan surga jauh di atas itu semua.

Don sangat banyak sekali Allah dan Rasul-Nya menggambarkan surga secara vulgar di dalam Al-Qur’an don hadist. Tidakkah kita tertarik?

Keuntungan yang kedua, (QS. Ash-Shaff: 14) adalah keuntungan, kemenangan, dan kejayaan di dunia, seperti yang pernah terjadi pada masa Rasulullah bagaimana Mekkah dapat dikuasai begitu pula kerajaan Persia don Romawi mampu ditundukkan oleh kaum muslim.

Beberapa abad kemudian kemenangan demi kemenangan diraih, hampir separuh bumi ini dikuasai oleh kaum muslimin yang telah menjual dirinya kepada Allah. Maka, orang yang berniaga dengan Allah akan dibukakan kesuksesan dunia ini dengan seluas-luasnya.

Kemenangan Kaum Muslimin di Dunia

Kemenangan hakiki kaum muslimin di dunia adalah memiliki pemerintahan yang adil dan tunduk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.

Apakah saat ini kita sudah sukses dan jaya seperti yang di inginkan Rasulullah?

Apakah kini kaum muslimin sudah menikmati manisnya iman dengan menggunakan dan tunduk pada pemerintahan yang 100% murni menggunakan hukum Islam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Silahkan temukan jawabannya.

Manusia yang telah berniaga dengan Allah pada hakikatnya telah menjual dirinya:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

QS. At Taubah: 111

Pada hakikatnya, Allah tidak pernah membeli sesuatu. Karena Dia pemilik segala sesuatu. Bagaimana bisa, Dia membeli jiwa kita yang jiwa itu sendiri ciptaan-Nya. Bahkan kita pun sebenarnya tak layak jual beli dengan Allah.

Bagaimana bisa, Dia membeli harta kita, yang harta itu Dia yang merezekikan? Sesungguhnya tawaran ini hanya untuk memuliakan manusia dengan seolah-olah menempatkan diri pada posisi yang sederajat. Subhanallah.

Kita tidak memiliki sesuatu yang bernilai sebanding apapun dengan tawaran keuntungan surga kecuali ketundukan dan ketaatan kita secara kaffah kepada hukum Allah dan Rasul-Nya saja.

Sudahkah hari ini kita lakukan itu? Adakah pemerintahan hari ini sudah melakukannya juga?

Jual Beli Dengan Allah Dibayar Tunai

Tidakkah kita bangga jika barang dagangan kita dibeli oleh seorang yang terkenal? Diliput media dan semua orang menyaksikan bagaimana orang terkenal itu duduk dengan santainya melahap hidangan jualan kita?

Bukan hanya bangga, namun sebentar lagi akan menjadi rumah makan terkenal yang dicari-cari. Rezeki berlimpah datang bertubi-tubi. Lalu, bagaimana jika Allah yang jadi pembelinya?

Jika kita menggunakan ukuran rukun jual-beli, maka semua syarat dan rukunnya sudah terpenuhi.

  1. Pertama, ada pembeli yaitu Allah.
  2. Kedua, ada penjual, yaitu kita manusia.
  3. Ketiga, ada barang yang dijual yaitu jiwa dan harta.
  4. Keempat, ada harga jual yaitu surga.
  5. Dan kelima, ada akad yaitu, ucapan syahadat kita.

Baca juga: Konsekuensi Dua Kalimat Syahadat

Salah satu syarat dalam jual beli adalah adanya kerelaan dari kedua belah pihak. Allah sama sekali tidak memaksa dan manusia bebas menentukan pilihannya. Mau atau tidak. Namun, semuanya ada konsekuensi logisnya.

Menjual diri dan harta untuk kepentingan agama Allah bukanlah perkara yang ringan, ia dikelingi oleh hal-hal yang terkadang tidak sejalan dengan akal dan maunya nafsu. Di sinilah tantangannya.

Pada umumnya, pembeli akan menawar barang jualan dengan harga yang paling rendah, agar bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat dan sebaliknya penjual akan menawarkan harga yang paling tinggi.

Di sini, Allah langsung memberikan harga dan tidak tanggung-tanggung, penawaran harganya langsung yang paling mahal. Yaitu Surga. Keuntungan apa lagi yang yang lebih untung melebihi surga dan terbebas dari neraka. Tidak ada bukan?

Baca juga: Apa Yang Dimaksud Dengan Islam Syumul?

Terlepas dari pembagian tingkatan kualitas ibadah seorang hamba kepada Allah, ada yang membagi tiga tingkatan ibadah, yaitu:

  • Ibadah karena iming-iming
  • Ibadah karena kebutuhan
  • Ibadah karena cinta.

Tentunya tidak ada salahnya mengharapkan surga untuk menghindari neraka dalam setiap ibadah kita.

Bisa dibaca surah Ali Imran ayat 133 dan surah Al-Isra ayat 57.

Mencintai seseorang bukan berarti kita tidak pernah berharap dan menuntut.

Kurang cinta apa Rasulullah SAW, kepada Allah SWT? Namun, kita juga mengetahui bahwa doa yang paling sering beliau panjatkan adalah doa meminta kebaikan di dunia dan akhirat serta terbebas dari api neraka.

Kesimpulan

Mari kita jadikan sebagai kesadaran semua aktivitas hidup dan amal kebaikan hanya untuk-Nya.

Bersedekah, berjihad fi-sabilillah, bekerja, belajar, mengajar, bahkan istirahat sekalipun kita persembahkan kepada-Nya. Semua karena Allah.

ltulah yang Allah beli dari diri seorang mukmin.

Persis seperti tugas kita dan tujuan kita tercipta di dunia ini adalah untuk beribadah hanya kepada Allah saja. (Lihat: QS. Adz-Dzariat: 56)

Nikmat rasanya. Tidak ada duka dan nestapa. Tidak ada kecewa dan dendam. Tidak ada rugi dan tertipu. Semuanya kita jual, dijual kepada Allah. Bukan hanya kesuksesan akhirat menanti namun, kemenangan dan kejayaan dunia ikut menyertai.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

QS. Al-An’am: 162

Saya kutip kalimat seorang kiai, Muhammad Ishom namanya,

“Berikan seluruh hatimu kepada Tuhan hingga engkau tak lagi memiliki hati. Dengan begitu, pastilah tak seorang pun akan mampu sakiti hatimu meski dengan beribu-ribu hinaan sekali pun. Kau akan menjadi laksana batu karang yang tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan.”

Kiai Muhammad Ishom

Beginilah seharusnya manusia kepada Tuhannya.

Previous

Mengenal Akad Nikah: Pengertian dan Hukumnya

Tinggalkan komentar