Bagaimana Hukum Menahan Kentut Ketika Shalat?

| |

Ketika sedang shalat, tiba-tiba ada hasrat untuk buang angin (kentut). Bagaimana sebaiknya? Apakah menahannya hingga selesai salat atau membatalkan shalat kita?

Sering kali ketika shalat tiba-tiba ingin kentut. Karena terjadi di tengah-tengah shalat maka kita pun biasanya berusaha sekuat mungkin untuk menahan kentut tersebut agar jangan sampai keluar.

Sepanjang pengetahuan kami, persoalan menahan kentut di tengah shalat tidak pernah dibicarakan secara langsung dalam hadis Rasulullah saw., tetapi yang kami temukan adalah hadis yang terkait menahan keinginan untuk makan ketika makanan telah disuguhkan dan menahan kencing atau buang air besar ketika dalam shalat.

Tidak ada salat di hadapan makanan, begitu juga tidak ada salat sedang ia menahan air kencing dan air besar (al-akhbatsani).” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan “tidak ada shalat” adalah tidak sempurna shalatnya (seseorang), sedangkan maksud “di hadapan makanan” adalah ketika makanan dihidangkan dan ia ingin memakannya. Begitu juga ketika menahan air kencing dan buang air besar.

Hadis di atas menurut Imam Muhyiddin Syarf’an-Nawawi mengandung hukum makruh shalat bagi seseorang ketika makanan telah dihidangkan dan ia ingin memakannya, dan bagi orang yang menahan kencing dan buang air besar.

Makruh artinya boleh dikerjakan tetapi lebih baik ditinggalkan. Kenapa menjalankan salat dalam kondisi seperti itu dihukumi makruh?

Baca juga: Hukum Shalat Dengan Pakaian Basah Karena Kehujanan?

Karena dapat mengganggu pikiran dan menghilangkan kesempurnaan kekhusyukannya. Jadi, yang menjadi illah al-hukmatau alasan hukum kemakruhannya adalah hilangnya kekhusyukan sehingga dari sini dapat dipahami bahwa sesuatu yang menimbulkan hilangnya kemakruhan seperti kasus di atas dapat dihukumi sama, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Muhyiddin Syarf’an-Nawawi.

Lebih lanjut, menurut beliau, kemakruhan tersebut menurut pandangan dari kalangan Mazhab Syafii dan selainnya, dengan catatan selagi waktu salat itu masih longgar.

“Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Tidak ada shalat di hadapan makanan, begitu juga tidak shalat sedang ia menahan air kencing dan air besar.” Dalam hadis ini mengandung kemakruhan salat ketika makanan dihidangkan di mana orang yang sedang salat itu ingin memakannya.

Hal ini dikarenakan akan membuat hatinya kacau dan hilangnya kesempurnaan kekhusyukan.

Kemakruhan ini juga ketika menahan kencing dan buang air besar. Dan di-ilhaq-kan dengan hal tersebut adalah hal sama yang mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan kekhusyukan.

Hukum kemakruhan ini menurut mayoritas ulama dari kalangan kami (Mazhab Syafi’i) dan lainnya. Demikian itu ketika waktu salatnya masih longgar.

(Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj, Bairut-Dar Ihya’ at-
Turats al-Arabi, cet ke-2, 1393 H, JuzV, h. 46)

Berpijak dari keterangan di atas, maka ketika ada seseorang yang menahan kentut ketika menjalankan shalat maka salatnya menjadi makruh sepanjang waktunya masih longgar, yakni apabila ia membatalkan shalat dan masih ada sisa waktu untuk menjalankan shalat yang telah dibatalkan.

Sebab, menahan kentut dalam shalat juga termasuk hal yang bisa merusak atau menghilangkan
kekhusyukan.

Karenanya, ketika orang tersebut melakukan salat dalam keadaan seperti itu maka ia melakukan hal yang dimakruhkan.

Menurut Mazhab Syafi’i dan mayoritas ulama, shalatnya tetap sah, tetapi disunnahkan untuk mengulanginya. Sementara menurut Mazhab Zhahiri, salatnya batal sebagaimana dikemukan oleh Qadli Iyadl.

Dan ketika ia melakukan salat dalam kondisi seperti itu dan waktunya masih longgar maka sesungguhnya ia telah melakukan perkara yang dimakruhkan, sedang shalatnya menurut kami dan mayoritas ulama adalah sah akan tetapi sunah baginya untuk mengulangi salatnya. Sedangkan Qadli Iyadl menukil pendapat dari kalangan Zhahiriyah bahwa salatnya adalah batal.

(Muhyiddin Syarf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj, Bairut-Dar Ihya’ at-
Turats al-Arabi, cet ke-2, 1393 H, JuzV, h. 46)

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga bermanfaat. Dan saran kami, sepanjang waktu shalat masih longgar, sebaiknya jangan melakukan shalat dalam kondisi lapar sedang makanan sudah dihidangkan, menahan kencing, buang air besar, atau kentut karena akan menghilangkan kekhusyukan
dalam shalat.

Previous

Hukum Shalat Dengan Pakaian Basah Karena Kehujanan?

Mengapa Penting Untuk Beradab Dulu Sebelum Berilmu?

Next

Tinggalkan komentar