Mengapa Penting Untuk Beradab Dulu Sebelum Berilmu?

| |

Kedudukan adab itu lebih tinggi dari ilmu (walaupun tetaplah bahwa ilmu adalah bagian penting yang sangat diperlukan dalam kehidupan).

Oleh karena itu disebutkan bahwa negara yang berperadaban tinggi ialah bukan sekadar dilihat dari ‘banyaknya ilmu’ yang berkembang di sana, tapi patokan utama peradaban ialah bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya ‘memperlakukan ilmu’ dengan sebaik-baiknya.

Adab Sebelum Ilmu

Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu“, dan demikian pula dangan ulama-ulama lainnya yang memerintahkan para muridnya agar mengutamakan adab sebelum ilmu.

Mengapa demikian?

Karena dengan beradab maka ilmu akan mudah diserap.

Islam lebih meninggikan dan memuliakan orang-orang yang menghiasi dirinya dengan adab/akhlak yang mulia ketimbang mereka yang berilmu. Sebab ini adalah misi kenabian Rasulullah Muhammad.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlakul karimah”

(HR. Bukhari)

Mengapa harus akhlak?

Ketika manusia sudah berakhlak/beradab, segala hal mudah untuk diperbaiki dan diraih.

Gambaran sederhananya seperti ini, jika kamu punya banyak ilmu, tapi kamu tidak berakhlak/beradab, maka ilmu yang kamu kuasai itu akan kesulitan menemukan rel-rel yang semestinya, dengan kata lain akan rentan untuk disalahgunakan.

Sebab akhlak-lah yang menjadi pembatas dan yang memberikan arahan bagaimana menyikapi ilmu itu.

Jadi, sekali lagi, bahwa kemajuan itu bukan dilihat dari seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tapi seberapa mampukah kamu berakhlak dan memperlakukan ilmu itu.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda,

Sebaik-baik kalian adalah yang mulia akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi)

Perbedaan Antara Adab dan Akhlak

Ada orang yang menganggap bahwa adab dan akhlak itu berbeda, namun ada pula yang berkesimpulan bahwa keduanya pada esensinya adalah sama, yakni mengajarkan keluhuran, hanya berbeda istilah saja.

M. Abdul Mujieb, misal, dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali, menyebutkan bahwa adab ialah tata krama, moral, atau nilai-nilai yang dianggap baik oleh sekelompok masyarakat.

Keberhasilan seseorang dalam segala hal hampir ditentukan oleh sejauh mana seseorang itu menjaga adabnya.

Baca juga: Menjadi Muslim Berakhlak Mulia Ciri manusia Yang baik

Adab adalah semua kandungan agama Islam. Menutup aurat adalah adab, bersuci dari kotoran adalah adab, termasuk berdiri di hadapan Allah dalam keadaan suci.

Sementara pengertian akhlak menurut Imam Al-Ghazali ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, yang kemudian dari jiwa timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan akal pikiran.

Senada dengan hal tersebut, Ibnu Maskawih berpandangan bahwa akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan.

Adab dan Akhlak Hakikatnya Sama

Dalam hal ini saya berpandangan bahwa adab dan akhlak pada hakikatnya sama, hanya saja berbeda dalam pengistilahan.

Meskipun tak bisa dipungkiri seandainya ada pandangan lain yang menyatakan bahwa keduanya adalah beda, maka perbedaan itu tidaklah signifikan dalam mempengaruhi esensinya.

Makna beradab dalam pandangan saya sendiri berarti memperlakukan sesuatu hal dengan seluhur-luhurnya, melatih jiwa dengan budi pekerti yang baik, menghiasi diri dengan perbuatan mulia, dan menjalankan segala sesuatu sesuai tuntunan yang berlaku; baik dalam nilai-nilai religius maupun nilai-nilai positif dalam masyarakat.

Baca juga: Penjelasan Hadits Adab dan Akhlaq Bulughul Maram: Keutamaan Akhlak Mulia

Di artikel ini saya ingin menyamakan penggunaan akhlak dan adab, seperti penggunaan kata fakir dan miskin; qada’ dan qadar, walau pada rinciannya berbeda antara akhlak dan adab, namun pada hakikatnya adalah sama, sama-sama bertujuan untuk keluhuran sikap dan sifat.

Seperti kehidupan kaum sufi yang mengamalkan ilmu tasawufnya, maka adab bagi mereka adalah bagian utama. Adab merupakan buah ihsan (kebaikan), kedudukan ihsan sendiri lebih tinggi dari iman.

Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa orang yang beradab adalah mereka yang telah berderajat tinggi tak sekadar mengimani keberadaan Allah, namun sudah mampu ‘menghadirkan’ kebesaran Allah sebagai pengatur satu-satunya dalam hidupnya.

Antara Adab dan Iman

Adab adalah batang dari iman seseorang. Ibarat sebuah pohon, iman adalah akarnya, sementara adab adalah batangnya. Batang inilah yang banyak dicari, banyak dilihat, dan lebih dihargai oleh orang-orang.

Iman sebagai dasar, sementara adab ialah yang tampak ke permukaan. Artinya, kesempurnaan iman seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia beradab.

Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Orang mukmin yang sempurna imannya ialah mereka yang mulia adabnya. ”

(HR. Tirmidzi)

Siapakah Guru Adab Yang Terbaik?

Pertanyaannya, siapa yang layak dijadikan panutan dalam membentuk adab ini? Atau dengan kata lain, dari manakah sumber adab itu?

Jelas bahwa yang dijadikan patokan dalam adab adalah adab/akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Sebagaimana dalam salah satu ayat Al-Qur’an yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

(QS. Al-Ahzab (33): 21)

Sumber Adab Terbaik

Dengan kata lain, bahwa umat Islam memiliki sumber adab, yaitu Al-Qur’an dan hadis. Dari kedua sumber ini yang dijabarkan, ditafsirkan, dan diamalkan oleh para ulama, sebagai ‘pewaris nabi’.

Oleh karena itu, mengikuti adab/akhlak para orang-orang saleh (ulama) juga mengikuti apa yang diwariskan oleh nabi.

Adab akan menuntun seseorang untuk cinta akan keluhuran, kebaikan, kesantunan, kesopanan, kelembutan, kesabaran, keikhlasan, membentuk ucapan, mengontrol tingkah laku, dan segala hal yang mendatangkan nilai-nilai kebaikan.

Tentu sangat penting dalam hidup; mengingat hal yang demikian guna menjadi manusia yang sempurna.

Ingatlah, bahwa kecantikan atau ketampanan seseorang bukanlah dilihat dari fisiknya, tapi dari adabnya. Bagusnya fisik akan cepat menua, sementara bagusnya adab akan menjadikan manusia mulia.

Keberadaan fisik hanyalah sementara, sementara jika kita beradab, maka adab itu akan ditiru dan diamalkan oleh orang lain, di situlah eloknya adab lebih utama, lebih berharga, dan lebih kekal daripada
eloknya tampang.

Mengapa Muslim Harus Beradab?

Seseorang harus kokoh dalam mengamalkan adab. Beradab dalam melakukan apa pun. Sebab segala sesuatu ada aturan dan tuntunannya.

Demikian pula, Islam mengatur bagaimana cara kita untuk beradab dalam hal apa pun, baik perbuatan-perbuatan yang terikat dengan ibadah maupun yang muamalah (tidak terikat ibadah). Semua ada adabnya.

Yang perlu kita ingat, bahwa cara kita beradab adalah cermin dari kepribadian kita. Jika kita menunjukkan adab yang baik dalam hal apa pun, maka itulah cerminan dari pribadi kita yang baik pula.

Sebaliknya, jika kita tak pernah beradab dalam apa pun, maka betapa buruknya kepribadian kita di ‘mata’ Allah dan di mata orang-orang sekeliling kita.

Dalam beradab, selain dimaknai sebagai kebaikan untuk diri sendiri, juga sebenarnya ia sedang berupaya menempatkan diri terhadap jalur yang benar, menjunjung etika, dan menghormati aturan yang berlaku. Sebagaimana dalam peribahasa, “Di mana kaki berpijak di situlah langit dijunjung.”

Dengan demikian, kita dapat pahami bahwa dalam setiap detail kehidupan, Islam telah mengatur bagaimana seseorang harus beradab dan berakhlak mulia, baik kepada Allah, sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya (adab terhadap lingkungan sekitar semakin lama semakin penting untuk dipelajari dan diamalkan, mengingat semakin jauhnya kita dari adab yang dicontohkan Rasulullah).

Kepada Siapa Harus Beradab?

Terkait hal itu, adab itu banyak macamnya, melihat kepada siapa kita sedang beradab. Di antaranya:

  1. Adab kepada Allah, yakni bagaimana cara kita beradab Saat berhadapan dengan-Nya lewat ibadah, Saat kita berdoa, dan saat memuji-Nya, dan menguatkan iman kepada-Nya.
  2. Adab kepada Rasulullah, yakni bagaimana cara kita beradab Saat bershalawat kepadanya, Saat menapaki jejak dan akhlaknya, saat mengikuti sunnahnya, dan cara mengokohkan iman kepada-Nya, serta lainnya.
  3. Adab kepada makhluk ghaib, seperti jin dan malaikat. Misalnya, kita diperintahkan oleh Rasulullah menutup aurat meski sendirian untuk menghormati malaikat. Kita dilarang kencing di air dan di lubang-lubang kecil di muka bumi yang tak lain adalah rumah bagi kaum jin, karenanya untuk
    menghormatinya.
  4. Adab kepada diri sendiri, yakni bagaimana cara berperilaku yang baik, cara makan/minum, cara berkendara, cara tidur, cara mandi, cara berpakaian, cara bertamu, dan lain-lain.
  5. Adab kepada sesama manusia, yakni bagaimana cara kita menghormati sesama manusia, di dalamnya ada adab-adab kepada ayah dan ibu, cara menghormati guru, teman, dan tetangga, serta lainnya.
  6. Adab kepada alam, yakni bagaimana cara kita merawat, menjaga, melestarikan, dan memperlakukan dengan baik atas hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lingkungan sekitar.

Jangan sekali-kali beranggapan bahwa kita hanya berakhlak secara vertikal (hablum minallah), tapi kita harus ingat bahwa kita adalah makhluk Allah yang harus berakhlak secara horizontal (hablum minan nas dan hablum minallah).

Jangan kita kira bahwa hewan, pohon, gunung, batu, langit, matahari, bulan, dan benda mati lainnya itu tidak ada apa-apanya, hanya terdiam bisu, tidak. Mereka semua adalah makhluk Allah juga. Mereka juga selalu bertasbih kepada-Nya, menyucikan asma-asma Allah, hanya saja kita tidak mengetahuinya.

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. ”

(QS. Al-Isra’ (17):44)

Oleh karena itu, kita harus tetap menggunakan adab-adab yang baik terhadap lingkungan kita, sekalipun mereka itu benda mati. Sebab mereka juga makhluk Allah yang turut menyucikan asma-asma-Nya.

Apa Manfaat Beradab?

Pertanyaan selanjutnya, “Mengapa kita harus beradab? Adakah faedah atau keuntungannya bagi diri ini?”

Ya, apa yang telah diperintahkan oleh Allah lewat Rasul-Nya, termasuk beradab/berakhlak, pasti ada hikmah dan faedah dibaliknya. Banyak sekali faedah atau pentingnya mengapa seseorang harus beradab dalam melakukan segala sesuatu, di antaranya:

  1. Adab yang luhur merupakan nilai yang memiliki derajat tinggi disisi Allah.
  2. Adab menghasilkan pahala atau kebaikan bagi orang yang melakukannya.
  3. Adab merupakan tanda kesempurnaan iman.
  4. Orang yang beradab akan dicintai oleh Allah dan Rasulullah.
  5. Orang yang beradab akan dihormati oleh sesama manusia.
  6. Adab akan menggiring seseorang untuk bijak dalam mengambil keputusan.
  7. Menumbuhkan sifat optimis dan disiplin.
  8. Selalu merasa tenang batinnya, karena berada di jalan yang benar.
  9. Pekerjaan terasa sangat mudah jika diikuti dengan adab yang baik.
  10. Mengajarkan manusia cara yang tepat untuk menjalani hidup dengan tepat pula.
  11. Adab akan membentuk perangai/kepribadian seseorang.
  12. Adab akan meluluhkan hati/perasaan orang lain.
  13. Adab akan memudahkan dalam menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
  14. Adab menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya beretika mengikuti aturan.
  15. Menciptakan ketenangan dan kedamaian.
  16. Dan masih banyak lagi.

Kesimpulan

Beradab sangatlah penting dalam mengerjakan segala sesuatu, selain untuk mengharap ridha Allah untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari apa yang dilakukan; juga untuk menjadikan diri sebagai pribadi yang sempurna agar selalu dicintai-Nya, sebab tertanamnya akhlak pada diri manusia merupakan suatu hal yang menentukan kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

Sudah siap beradab? Ayo beradab!

Previous

Bagaimana Hukum Menahan Kentut Ketika Shalat?

Mengenal Akad Nikah: Pengertian dan Hukumnya

Next

Tinggalkan komentar